Azam Sang Ular Tua

Azam Sang Ular Tua


Lelaki setengah baya merenung di sisi telaga. Di bawah purnama yang mengambang muram. Rasa putus asa yang bergelora. Rasa pesimis yang mengais. Seperti seekor ular tua lemah menggeliat. Tak berselera melilit seekor tikuspun yang lewat. Dan tikus itupun tertawa gelak.

Sedang mata sudah sedikit buram. Sedang sisik telah kusam. Tapi kulit tak juga mau berganti. Begitu payah merendam tubuh dalam genangan. Dan menggesek badan ke pokok kayu. 

Duhai Tuhan apa ajal akan segera tiba? Mencampakkanku jadi bangkai yang hina. Dikerumuni  lalat yang berpesta. Lalu tinggallah belulang. Dan bukan fosil yang berharga.

Duhai Tuhan. Biarlah aku jadi Si Bijak. Bertapa 1000 tahun lewat. Biar tubuhku berlumut tergerus zaman panas dan hujan. Tapi aku kan bahagia menanggalkan dosa atas lilitanku yang mematikan. Tuhan aku berazam.


Bandung 16 Agustus 2018

Komentar